Manakah yang jadi jembatannya?
Nafsu atau hati?
Mengiring jauh
Lalu masuk kandang, kembali
Manakah yang jadi pintunya?
Mata atau telinga?
Terlihat indah
Terasa pahit, kembali
Manakah yang jadi jalannya?
Dengan tangan atau kaki?
Lurus dan mulus
Lalu banyak kerikil tajam, kembali
Manakah yang berdusta?
Nafsu, mata, atau kaki?
Manakah yang harus hancur?
Jembatannnya, pintunya, atau jalannya?
Karena semua tak membawaku ke hari ini
Tapi ke mimpi.
2008
Empat tahun, ketika terbangun di pagi hari dengan alas yang basah
Empat tahun, ketika mengulum nasi di pipi sambil bermain dengan pesawat sendok
Empat tahun, ketika siang gelisah menanti senja
Ketika berhambur keluar dan bebas berlari tanpa ditanya alasan
Tak ada yang bertanya, hanya rasa…
Selanjutnya, saya akan menceritakan dua hal timpang dalam empat minggu terakhir ini. Masih di latar yang sama; RSUD Koja, diantara ratusan orang berbeda yang saya temui tiap harinya.
Berikut pandangan “terpuruk” saya akan kosongnya suatu bed di bangsal RSUD Koja;
Minggu pagi saya melakukan follow-up terhadap pasien-pasien. Sekadar memeriksa tanda vital dan melakukan tanya jawab pada mereka. Hingga saya menemui seorang Bapak yang saat itu sedang menggigil kedinginan. Saya mulai melakukan tanya jawab standard, “Pak, Bapak ngerasa gimana sekarang?” Isteri beliau menjawab “Kedinginan, Dok, belum lama, tiba-tiba menggigil kayak gini.” “Oh, saya periksa dulu ya, Pak. Semalam bagaimana? Sebelum ini gimana keadaannya, Bu?” Tapi Bapak tersebut bersikeras untuk diberikan obat saja dan tidak mau diperiksa. Saya terlalu bingung karena hal seperti itu pertama kalinya dalam dunia per-Pandas-an saya. Tidak bisa pikir panjang, saya segera melaporkannya ke perawat yang hasilnya hanya dibalas dengan “Kalo meriksa ya semuanya dong! Masa saya harus manggil dokter kalo kamu aja belom meriksa.” yang mau tidak mau harus saya balas dengan “Makasih, kak” dan dengan nyali ciut saya kembali menghadapi pasien tersebut.
Saya ngga bisa apa-apa kecuali membujuk Bapak tersebut. Saya yakin suara saya sedikit bergetar tetapi saya mencoba untuk mengeluarkannya dengan tegas walau akhirnya saya memelas, “Mohon maaf, Pak, tapi saya bukan siapa-siapa. Saya ngga bisa ngasih Bapak obat. Saya cuma bisa meriksa, dan hasil periksa saya, saya laporin ke dokter jaga atau dokter yang biasanya meriksa Bapak.. Maaf ya, Pak, Bapak mau ya saya periksa, supaya Bapak bisa dikasih obat.” Akhirnya beliau mengijinkan saya untuk memeriksa. Hasil tanda vital beliau yang dapat dibilang kurang baik segera saya laporkan dengan panik ke perawat yang lalu segera melaporkan pada dokter jaga. Setelah itu saya kembali ke kostan, berpikir semuanya sudah teratasi.
Keesokan harinya, saya kembali melakukan follow-up. Hingga tiba di suatu kamar, dimana seorang wanita menangis tanpa henti dan melihat ke arah saya. Entah kenapa, saya mengerti kenapa ia menangis dan saya terdiam, menatap balik Ibu tersebut, ia terlihat akan berbicara pada saya tetapi saya kurang mengingat wajahnya, karena ekspresi orang yg terlalu sedih sangat dapat merubah tampak wajah seseorang. Setelah menatap beliau selama beberapa detik, teman saya memanggil dan saya memutuskan untuk mengikuti mereka. Hal yang membuat saya bingung adalah, bed paling ujung tempat Bapak yang saya periksa kemarin dalam keadaan tertutup tirai sehingga saya tidak dapat melihatnya. Saya kira ia tertidur dan baik-baik saja. Hingga saya mendengar, bahwa beliau memang sudah tertidur, memang tenang, dan untuk selamanya. Dan ibu yang menangis kemarin adalah ibu yang membantu saya membujuk almarhum untuk diperiksa..
Sekitar seminggu kemudian, saya dapat mengalihkan pikiran saya hingga tidak memikirkan hal tersebut lagi. Pandangan “terharu bahagia” yang 180 derajat berbeda dengan pengalaman sebelumnya ini terjadi di IGD RSUD Koja. Saya tengah terdiam memperhatikan keadaan pasien yang baru saja terluka karena kecelakaan motor. Sampai seorang dokter mendatangi saya “Dik, kamu punya tem?” “Hah, tem, Dok?” “Iya, tem.” “Tem?” “Suhu.” “Oh, termometer? Iya punya, Dok.” “Yaudah sini ikut saya. Kamu periksa, anamnesis dia ya.” Kata beliau pada saya sambil menunjuk seorang anak perempuan kelas 2 SD yang terduduk lemas, “Iya” jawab saya.
Awalnya anak tersebut berkata pada Ibunya “Ma, ngga mau disuntik.” Saya cuma bisa senyum mengingat masa kecil saya yang hampir selalu mengatakan hal tersebut tiap dibawa ke dokter, “Halo, saya Dokter Ageng, dek. Nama kamu siapa? Saya periksa sebentar ya, janji ngga saya suntik, saya ngga punya suntikan kok, tuh liat.” Setelah saya periksa dan tanya-jawab, saya melaporkan hasilnya pada dokter yang menyuruh saya. Lalu ia meminta saya untuk memberikan obat secara suppositoria (melalui anus). Tetapi sebelumnya, seorang perawat sudah datang dan membawa selang infus untuk dipasangkan ke anak tersebut. Anak itu otomatis menolak dan mulai menangis, memang dasarnya anak itu berani, saya menemani dan memegang tangannya saat ia hendak diinfus. Refleks, saya teringat anak-anak yang biasanya akan disunat selalu diminta untuk baca doa, saya pun berkata “Ayo, pinter kan, sambil baca doanya gimana.” dan ia-pun berdoa sambil menutup mata hingga infus berhasil dimasukkan oleh perawat.
Ngga lama kemudian, obat penurun panas tadi sudah ditebus dari apotik. Saya sama sekali ngga berpengalaman untuk memasukkan obat lewat anus, maka saya meminta bantuan teman saya untuk melakukannya. Pada saat teman saya membujuknya untuk dimasukkan obat, anak tersebut memberontak, lalu saya mendatanginya dan ngga sengaja (atau mungkin salah) mendengar anak itu menangis “Maunya sama dokter yang tadi! Dokter yang tadi mana, Ma?” Saya kaget, tersenyum, lega walaupun mungkin salah dengar, lalu saya memegang kakinya “Dek, ngga sakit kok, tapi kamu jangan nangis, janji dulu..” “Tapi Dokter disini kan..” “Iya, ngga sakit kok..” akhirnya ia terdiam sambil membaca doa, dan obat berhasil dimasukkan.
Dan hal yang sama sekali berbeda terjadi hari ini. Setelah saya memeriksa seorang anak yang mengalami kejang sambil menunggu dokter, saya berdiri disitu seakan orang bodoh, hanya menunggu untuk melakukan observasi tiap 15 menit. Selama observasi, teman saya mendapati refleks pupil anak tersebut negatif, nadinya mendadak melemah bahkan ngga teraba. Kurang lebih 30 menit saya berdiri disitu hanya bisa memeriksa seadanya, hingga oksigen dilepas dan teman saya mengambil ambu-bag karena sang anak hendak dipindah ke PICU (Perinatal Intensive Care Unit), tiba-tiba suara nafasnya tidak dapat saya dengar sama sekali, nadinya tidak teraba, akral dan bibirnya terlihat biru, tingkat kesadarannya sudah sangat minimal. Kaki saya melemas, jantung saya seakan ngga memompa darah sedikitpun. RJP (Resusitasi Jantung Paru) dilakukan seadanya hingga seorang dokter jaga datang dan hanya mengatakan “Ibu, anak Ibu udah ngga ada.. Ibu harus ikhlas ya..” Ibu dari anak itu terjatuh lemas dan berteriak-teriak bertanya “Kenapa?” dan hanya Yang Diatas yang bisa menjawab. Teman-teman saya menolong Ibu tersebut. Saya masih berdiri, mencerna apa yang baru saja saya dengar, mengumpulkan energi, membersihkan alat-alat yang dipakai untuk menolong, lalu terdiam lagi memandangi anak tersebut, dan cuma bisa bertanya “Kenapa gini?” pada teman saya. Tanpa bisa mendengar perkataan Ibu-nya lebih lanjut yang berteriak meminta anaknya untuk bangun, saya keluar dan duduk lemas di ruang dokter. Dan hingga saat ini mencoba untuk memikirkan dengan jernih apa yang menjadi pengalaman saya hari ini, meski yakin anak ngga ada dosa itu udah tenang sekarang..
Demikian hal-hal yang saya dapatkan di rumah sakit. Dari senyum kelewat riang pasien yang dinyatakan boleh pulang oleh dokter, pandangan bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh pasien atau keluarga, semangat pasien untuk sembuh, pasien yang tertidur dalam tingkat kesadaran koma yang masih tidak tahu akan membaik atau tidak, hingga suatu keberadaan pasien yang dalam hitungan waktu segera menghilang. Begitu banyak pelajaran, entah sekadar empati, mungkin simpati, atau bahkan hubungan dari jiwa ke jiwa akan berartinya suatu kesehatan, kesembuhan, dan keberadaan..
Paragraf kesekian teks ini adalah lanjutan. Di hari yang sama dan beberapa hari ke depannya, saya bertemu dengan seorang dokter spesialis paru yg selanjutnya akan saya sebut sebagai dr. H.
Beliau orang yg sangat humoris dan ramah, sangat ramah terhadap pasien, dan kami para pelajar. Setiap kali kami mengajukan pertanyaan, beliau menjawab dari A-Z. Lengkap, atau mungkin tidak, dan ketidaklengkapan jawaban beliau biasanya dijadikan tugas rumah. Satu dari beberapa hal yang saya ingat dari beliau adalah sifat luwes dan “ngga-mau-ribet”nya yang selanjutnya memang memudahkan pasien maupun pihak RS. Beberapa hal selanjutnya adalah; tiap kali hendak memasuki kamar bangsal, beliau selalu mengucapkan satu kata “Samlikum (atau Assalamualaikum)” dan tiap kali keluar “Kumsalam (atau Waalaikumsalam)”. Entah kenapa bila kata ini diucapkan beliau, selalu merangsang syaraf saya dan teman saya yg selanjutnya mencetuskan refleks ketawa.
Keramahan beliau selalu disambut pasien dengan baik. Satu contoh dari keramahan yang menurut saya lelucon adalah demikian:
Dr. H: “Samlikum.”
Pasien: “Assalamualaikum, Dok”
Dr. H: “Gimana bu? Udah sehat nih kayaknya yak?”
Pasien: “Yaa mendingan, Dok. Udah boleh pulang belon?”
Dr. H: “Udeh sih, tapi di rumah jangan males-malesan tapi jangan kerja berat juga yak! Jaga warung aje gih tuh di rumah ye, yang bener.”
Pasien: “Oh, ngga boleh kerja yang berat, Dok? Tapi, Dok…”
Dr. H: “Ape tapi-tapi, udah tua juga, Bu, inget umur lah!”
Pasien: “Ye bukan gitu, Dok, masalahnya saya kaga punya warung.”
……………………………………..
Cara berpikir beliau mengenai penegakkan diagnosis penyakit maupun penatalaksanaannya yang jauh dari “kaku” juga merupakan hal yang menginspirasi saya. Meski kata beliau “Nanti juga kamu begini, ini cuma masalah kebiasaan kok.”
Dalam dua minggu, hampir setiap hari, beliau merupakan dokter yang selalu saya ikuti selain dr. B. Hingga suatu saat beliau mengingat jumlah kelompok kecil saya di suatu hari Sabtu siang dan menanyakan “Kenapa kalian cuma bertiga? Satunya mana? Yang mana tu ya yang ngga ada?” “Ngg, yang Arab, Dok” jawab saya “Oooh, tapi kalian rajin bener hari Sabtu masih ngikutin saya aja. Tapi kost ya?” “Ngg, iya, Dok, tapi nanti sih pulang ke rumah.” “Oooh, diapelin ya?” “Hahahaha!” “Nih ya… Saya kasih tau, kalo mau nyari suami itu yang begini……………….. (Demikian selanjutnya beliau memberi nasihat “asal tapi 80% akurat” mengenai “suami ideal” untuk kami). Setelah panjang lebar, beliau terdiam sejenak lalu seakan menunggu kami bertanya. “Tumben diem, biasanya tiap saya ngisi status pasien, kalian udah cerewet semua pada nanya.” “NAH, jadi gini, Dok……..” Demikian proses belajar-mengajar kami terus berjalan setiap harinya hingga beliau seakan selalu mengerti apa yang akan kami tanya selanjutnya.
Pada Sabtu siang itu juga tawa kami mereda karena beliau tiba-tiba berkata di tengah percakapan “Ayok puas-puasin ambil ilmu saya hari ini, mulai Senin besok saya udah pensiun. Kalian Koass atau Pandas?” “Pandas, Dok.” “Ya udah, mudah-mudahan kalau kalian Koass disini lagi, saya masih mau kok kalo diminta ngasih bimbingan, tapi saya ngga praktik disini lagi.” Refleks “Yah, Dok, kenapa?” “Ya capek, saya udah tua, tau.” Dan sejam atau bahkan lebih selanjutnya, semua ilmu yang beliau anggap penting mengenai penyakit infeksi paru terbanyak di Indonesia, beliau berikan kepada kami. Hingga kalimat ini, “Kalo kalian udah jadi dokter, jangan terpaku sama teori.” beliau terdiam sebentar lalu seakan menjawab pertanyaan selama 3,5 tahun saya “Saya sempet bosen kok waktu kuliah, saya bahkan pernah nyesel masuk FK, tapi nanti waktu kalian ngejalanin Koass, pikiran kayak gitu biasanya berubah. Saya suka jadi dokter waktu saya mulai masuk di RS. Ini nyenengin kok.” Saya terdiam dan begitu saja, beliau meninggalkan ruangan “Waalaikumsalam.” ujarnya, “Makasih, Dok!” teriak saya.
Kedua dokter tersebut berperan besar dalam beberapa minggu ini. Hingga membuat saya bahkan tidak bisa membayangkan tempat saya, kondisi saya kalau saya bukan di tempat dan di jalan yang saya jalani sekarang. Membawa saya kepada pikiran seorang anak SMA naif +/- 3,5 tahun lalu setelah melalui jalan dan bahkan berbelok-belok hampir keluar alur..
Hari ini tanggal 3 Mei 2013, hari Jumat dan aktivitas minggu ini baru aja selesai. Teks ini akan berisi beberapa atau mungkin seluruh kejadian dalam dua minggu terakhir ini. Ngga terlampau penting memang, karena pasti ada aja hal-hal yang lebih penting, dan mungkin hal tersebut akan saya lalui di hari-hari selanjutnya.
Saya mahasiswa Fakultas Kedokteran. 3,5 tahun lalu, untuk saya dalam segala kenaifan/kepolosan/mungkin hati nurani saya, uang itu ngga ada nilainya dibanding melihat orang sakit jadi sembuh. Dan dalam 3,5 tahun ini, pastinya pandangan lurus itu berbelok jadi hal-hal “manusiawi” semacam “Yah, buat apa kuliah kalo ngga bisa ngehasilin uang banyak?” atau “Uang kuliah itu ngga dikit, kalo emang tujuan hidup cuma buat nolong orang, kenapa dulu pikiran saya muluk banget mesti di jalan yang kayak gini, banyak cara buat nolong orang, tanpa harus ngebebanin Ibu sendiri.” dan pikiran lainnya.
Sekitar sebulan yang lalu saya dinyatakan layak untuk lanjut ke Kepanitraan Klinik (yang nge-trend disebut “Koass” atau dipanggil “Dok..ter muda”). Bersyukur? Ya jelas. Beban? Berat, apalagi dua minggu lalu saya memulai awal minggu di tempat yang termasuk asing; Koja, Jakarta Utara. 22 April 2013 saya mulai Pandas (Kepanitraan Dasar). Hari pertama, tujuan saya sekadar mencari ilmu, bukan menikmati. Saya ditempatkan di bagian Penyakit Dalam. Bangsal disana isinya rata-rata pasien yang dibantu KJS (Kartu Jakarta Sehat). Dan untuk saya yang kemanusiaannya terkuras selama 3,5 tahun, tempat itu bukan tempat buat “enjoy” tapi sekadar tempat “studi-wisata”, syukur-syukur ada penyakit yang menurut saya menarik, pasien ngga lebih dari objek pembelajaran saya. Hari di RS hampir berakhir, membosankan, hingga akhirnya saya berpapasan dengan seorang dokter, psikiater tepatnya. Sebut saja dr. B. Saya dan kelompok kecil saya memutuskan untuk ikut beliau visit (mendatangi pasien bangsal untuk follow up) dan beliau dengan senang hati mengajak; “Ramah”, pikir saya.
Pasien-pasien yang beliau datangi rata-rata rujukan dari dokter penyakit dalam dengan “suspek terinfeksi HIV”. Beliau melakukan anamnesis (tanya-jawab dengan pasien) dengan alami, senyum beliau tulus, tatapan beliau lekat pada pasien dan penuh kepercayaan. Di pertemuan kali pertamanya dengan pasien tersebut, segala informasi (dengan pertanyaan-pertanyaan tabu di kalangan masyarakat Indonesia) baik tentang kehidupan berkeluarga, pribadi, dan seks pasien dengan mudah didapat begitu saja. Iya, begitu aja, pasien dengan mudahnya menandatangani surat persetujuan untuk diperiksa apakah benar ia terinfeksi HIV tanpa terlihat mencela dr. B yang mencurigainya terinfeksi virus “tabu” tersebut.
Pasien selanjutnya yang ia datangi adalah seorang wanita muda yang sudah positif terinfeksi virus “H” tersebut. “Suami” wanita tersebut meninggal karena penyakit yang sama. Ia sekarang didiagnosis mengalami Gangguan Afektif Depresi. Sulit diajak berkomunikasi, saya akui, karena keesokan harinya saya diminta untuk memeriksa wanita ini. Awalnya ia mau berbicara dengan saya dengan baik walau dengan suara pelan, hingga akhirnya tiba-tiba keadaan berubah sampai saya harus berusaha keras untuk melepas manset tensimeter saya dari lengannya karena tindakannya yang tiba-tiba tidak kooperatif. Tapi dr. B bisa dengan mudahnya tersenyum pada wanita ini, walau ngga dibalas senyum, tapi ia mau menjawab semua pertanyaannya. Dan dr. B sendiri memberitahu wanita tersebut “kamu udah baikan kok, iya kan?”. Pernyataan sugestif tersebut dijawab dengan anggukan. Beliau terlihat begitu dekat dan percaya pada pasien, walau mungkin tidak. Dan hal-hal yang saya lihat di hari pertama tersebut sedikit menampar saya yang awalnya menganggap pasien sekadar objek untuk diobati dan dipelajari, bukan dikenali, dan diajak tersenyum dengan tulus.
Setelah visit selesai, beliau mengajari kami beberapa hal tentang HIV, dan banyak hal, termasuk beberapa lelucon. Beliau memulai senyum terlega saya hari itu, awal dari keinginan bahwa saya ingin jadi seperti beliau dengan segala kepercayaan dan kedekatannya dengan banyak orang, dan salah satu caranya adalah; melanjutkan apa yang sudah saya jalani sekarang.
Schwerin, Germany (by Raj(Ramad))
(via talktobastianbitch)
Los Angeles County incarcerated youth write Pope Francis:
Thank you for washing the feet of youth like us in Italy. We also are young and made mistakes. Society has given up on us, thank you that you have not given up on us.
Tonight we pray for all victims of violence. The families of people we have hurt need healing. Our families need healing. We are all in pain. Let us feel Jesus’ healing tonight.
You can read the rest here.
History in the making. #eastersunday #vatican #pope
If you watch this, I promise you’ll fall even more deeply in love with Cho Kyu than you already are (if you are) despite the fact that it probably doesn’t seem like a possibility. ;___; <3
Remember him saying multiple times throughout the show how exhausted he was? But like every other time he’s ever seen fans waiting, no matter how late or how tired he is, he always, always so selflessly greets them. Because even now, despite all his fame, he’s still so, incredibly grounded and he hasn’t (and probably never will) forgotten where he came from and what it’s like to be a fan. ;~;♥